PEKAN BARU, HENDSWAY – Sebagai seorang jurnalis yang sehari-hari bertugas di Kepulauan Bangka Belitung, saya terbiasa dengan aroma laut, embus angin pantai yang konstan, dan sengatan matahari yang ramah karena selalu diredam oleh sirkulasi udara kepulauan.
Namun, perjalanan dinas sekaligus petualangan pribadi saya ke daratan Provinsi Riau kali ini khususnya saat membelah jalur Kabupaten Bengkalis, Duri, hingga Kota Dumai memberikan benturan realitas yang sama sekali baru. Ada dua hal yang seketika terasa asing, mendebarkan, sekaligus membekas dalam ingatan saya.
Sengatan yang Lebih Kejam dari Negeri Laskar Pelangi
Hal pertama yang menyergap begitu saya menginjakkan kaki di koridor Duri–Dumai adalah cuacanya. Sebagai orang yang terbiasa bekerja di bawah terik matahari Bangka Belitung, saya pikir saya sudah “kebal” dengan panas. Saya keliru.
Panas di jalur Duri–Dumai memiliki karakter yang berbeda; ia tidak hanya terik, tetapi menyengat dan mengungkung. Udara terasa begitu padat dan berat. Di Bangka Belitung, meski termometer menunjukkan angka tinggi, angin laut yang berembus aktif selalu berhasil menyapu keringat dan memberi napas lega.
Namun di sini, di atas hamparan tanah gambut dan kepungan perkebunan sawit yang luas, kelembapan udara yang tinggi justru mengunci panas di permukaan. Keringat seperti tertahan di pori-pori, menciptakan sensasi feels like atau indeks panas yang jauh lebih tinggi. Berada di luar ruangan di jalur ini rasanya seperti berjalan di dalam ruang sauna raksasa yang terpapar matahari langsung tanpa penghalang awan.
Berpapasan dengan Para “Monster” Jalanan
Jika cuaca ekstrem adalah ujian bagi fisik, maka pemandangan di jalan raya adalah ujian bagi nyali. Sebagai pendatang, hal yang paling membuat saya terkesima sekaligus asing adalah dominasi kendaraan di jalanan. Di jalan-jalan nasional maupun provinsi yang menghubungkan Bengkalis, Duri, dan Dumai, aspal tidak dikuasai oleh mobil pribadi atau sepeda motor, melainkan oleh truk-truk trailer berukuran raksasa.
Di Bangka Belitung, truk yang melintas umumnya berukuran sedang untuk angkutan komoditas lokal. Namun di koridor utama Riau ini, saya menyaksikan langsung rantai pasok industri skala global bergerak. Truk trailer multitroda yang panjang, truk tangki CPO (Crude Palm Oil) yang berkilau di bawah terik, hingga armada pengangkut alat berat sektor migas mondar-mandir tanpa henti.
Menyaksikan monster-monster besi ini melintas dari jarak dekat mendengar deru mesin dieselnya yang berat dan merasakan getaran aspal di bawah roda-roda raksasa mereka memberikan sensasi ngeri sekaligus takjub. Sebagai jurnalis, mata saya melihat ini sebagai urat nadi ekonomi yang luar biasa aktif; Dumai sebagai kota pelabuhan industri dan Duri sebagai ladang minyak legendaris. Namun sebagai pengendara, melintasi jalur ini menuntut fokus penuh dan kewaspadaan tingkat tinggi. Anda harus berbagi ruang dengan kendaraan yang memiliki titik buta (blind spot) sebesar rumah.
Refleksi Perjalanan
Perjalanan dari Duri menuju Dumai membuka mata saya tentang betapa kayanya ragam lanskap Nusantara. Riau daratan dengan karakter industrinya yang masif menawarkan atmosfer yang berbanding terbalik dengan ketenangan pulau Bangka yang dikelilingi laut.
Debu jalanan yang beterbangan disapu truk trailer, kepulan uap panas dari aspal yang membara, dan deru mesin industri adalah harmoni harian yang membentuk denyut nadi kawasan ini. Sebuah catatan perjalanan yang tidak hanya melelahkan fisik karena dehidrasi, tetapi juga memperkaya perspektif saya sebagai seorang jurnalis dalam merekam geliat ekonomi di garis khatulistiwa.














