Opini
Oleh : Henddra Citizen
Memangnya Wamil Harus Pakai Loreng?
CJ Online, Jakarta – Jagad maya dan warung kopi belakangan ini riuh oleh sebuah pemandangan yang tak biasa sekaligus membingungkan. Ruang publik kita disuguhi foto dan video jajaran manajer korporasi—termasuk para petinggi KDMP—yang berbaris rapi dengan seragam loreng, tiarap di lumpur, dan diajari cara memegang senjata laras panjang. Fenomena “wajib militer” dadakan bagi para profesional kerah putih ini seketika memantik sorotan tajam dan pertanyaan besar dari masyarakat: Kita ini sedang mencetak pemimpin bisnis yang andal, atau sedang mempersiapkan pasukan gerilya untuk perang dunia?
Mari kita kembalikan nalar kita ke khittahnya. Sebuah korporasi atau badan usaha didirikan dengan satu tujuan utama yang sangat pragmatis: mencari laba, mengamankan untung, dan menjaga keberlanjutan bisnis. Indikator kinerja seorang manajer diukur dari seberapa sehat neraca keuangan perusahaan, seberapa efisien operasionalnya, dan seberapa luas penetrasi pasarnya.
Lantas, apa hubungannya kemampuan membongkar-pasang senapan serbu dengan menaikkan grafik penjualan kuartalan? Memangnya kalau perusahaan mau bangkrut, sang manajer harus menembaki inflasi dan suku bunga bank pakai peluru tajam?
Mengapa Pegang Senjata, Bukan Disuruh Mahir Neraca Rugi Laba?
Sorotan publik hari ini menguliti keputusan ugal-ugalan di balik kedok “pelatihan kedisiplinan dan bela negara” ini. Masyarakat mempertanyakan urgensi dan relevansi kurikulum pelatihan tersebut.
Mengapa para manajer ini harus dipaksa merayap di bawah kawat berduri, bukannya dididik secara spartan di bidang akuntansi forensik? Kenapa mereka harus dilatih memegang senjata pembunuh, bukannya dilatih agar mahir mengoperasikan komputer untuk membedah neraca rugi laba?
Dunia bisnis modern di tahun 2026 ini bergerak dengan kecepatan algoritma dan kecerdasan buatan (AI). Musuh nyata seorang manajer bukanlah penyusup di dalam hutan, melainkan fluktuasi pasar, disrupsi teknologi, dan kebocoran anggaran internal.
Untuk menghadapi musuh-musuh abstrak ini, seorang manajer tidak membutuhkan keahlian menembak jitu (sharpshooter). Mereka membutuhkan kemahiran membaca data pemasaran, ketajaman memetakan strategi mitigasi risiko, dan keahlian mengendus potensi kerugian sebelum uang perusahaan telanjur menguap. Menjejalkan doktrin militeristik ke dalam kepala seorang eksekutif bisnis adalah salah kaprah tata kelola yang sangat menggelikan.
Salah Urus: Mengobati Kanker Korporasi dengan Obat Kurap
Banyak pihak menduga, tren mengirim manajer ke barak militer ini hanyalah kosmetik birokrasi demi menciptakan ilusi seolah-olah perusahaan memiliki sumber daya manusia yang “tegas dan berintegritas”. Padahal, disiplin militer dan disiplin korporasi adalah dua kutub yang berbeda 180 derajat. Di militer, sistemnya adalah komando tegak lurus—anak buah dilarang membantah. Sedangkan di dunia bisnis, inovasi justru lahir dari ruang diskusi yang demokratis, kritik yang terbuka, dan fleksibilitas dalam mengambil peluang.
Ketika sebuah perusahaan mengalami kerugian atau terjerat kasus korupsi, akar masalahnya hampir selalu sama: lemahnya sistem pengawasan finansial (good corporate governance) dan buruknya kompetensi manajemen. Mengobati penyakit kronis ini dengan cara menyuruh manajernya latihan baris-berbaris adalah tindakan bodoh yang membuang-buang anggaran. Korporasi membutuhkan akuntan yang jeli melihat angka siluman, bukan penembak jitu yang pandai membidik sasaran.
Publik: Hentikan Panggung Sandiwara Loreng di Lingkungan Korporasi
Sudah saatnya kementerian terkait dan para pemegang kebijakan menghentikan panggung sandiwara loreng di lingkungan korporasi. Kembalikan para manajer itu ke meja kerja mereka, ke depan layar laptop yang menampilkan grafik pemasaran dan aplikasi akuntansi.
Biarkan urusan angkat senjata, strategi perang, dan baju loreng menjadi tugas suci TNI yang memang ahli dan terlatih di bidangnya. Jangan paksa manajer kita menjadi “tentara nanggung” yang gagah di lapangan tembak, tapi loyo dan plonga-plongo saat disuruh menyelamatkan perusahaan dari jurang kerugian. Ingat, perusahaan itu hidup dari laba dan untung yang dicari pakai otak, bukan pakai popor senapan! ( Henddra Citizen )













