Catatan HenddraOpini

Re-Public in Real Story: Ketika Pengemis itu Jahat Kepada Rakyat setelah Menjadi Raja

31
×

Re-Public in Real Story: Ketika Pengemis itu Jahat Kepada Rakyat setelah Menjadi Raja

Sebarkan artikel ini
Pengemis Menjadi Raja

Oleh : Henddra Widjaja

Hendsway – Panggung politik kita sebetulnya tidak lebih dari sebuah teater komedi putar yang melahirkan para amnesia sejarah. Setiap lima tahun sekali, kita menyaksikan pemandangan yang sama: sekelompok orang datang mengetuk pintu-pintu rumah warga bawah. Mereka datang dengan wajah paling melas, membungkuk takzim, melipat tangan di dada, dan memohon-mohon selembar kertas untuk mendapatkan sedekah. Pada titik itu, status mereka sangat jelas: mereka adalah pengemis yang meminta sedekah berupa suara

Rakyat yang memiliki hati selembar sutra lantas menaruh iba. Melalui kotak suara, rakyat menyumbangkan harapan, memberi mandat, dan mengangkat derajat sang pengemis hingga ia berhasil menduduki takhta tertinggi. Sang pengemis suara kemarin pagi, hari ini resmi bertakhta sebagai raja penguasa.

Namun, begitu mahkota kekuasaan melekat di kepala dan jubah kemegahan menyelimuti pundak, sebuah transformasi gaib terjadi. Sang pengemis mendadak amnesia. Tak hanya melupakan asalnya, tetapi berubah wujud menjadi sosok yang tega dan jahat kepada rahim yang melahirkannya.  Kebijakan-kebijakannya mencekik leher rakyat, aparatnya represif menindas kritik, dan anggaran pun dirongrong serta dinikmati oleh tikus – tikus koruptor yang berada disekelilingnya,  bersama kroni-kroninya.

Melihat fenomena aneh ini, sebuah pertanyaan besar dan menggugat lahir dari akal sehat rakyat: Kenapa kamu jahat sama rakyat, padahal kamu tidak pernah haus, tidak pernah lapar, uangmu banyak, tidur bertilam sutra, tinggal di gedung yang megah, lalu apa yang menjadikan  alasan bagimu sehingga kamu jahat sama rakyat? Pertanyaan dari hati rakyat yang paling dalam disertai iringan airmata keputusasaan. Pertanyaan yang tak akan pernah bisa dijawab sampai kapanpun oleh penguasa manapun kecuali raja yang lalim.

Dahaga Kekuasaan yang Tak Pernah Usai

Secara logika materi, tindakan sang raja ini benar-benar di luar nalar. Rakyat sudah mencukupi seluruh kebutuhan hidupnya dari ujung kaki hingga ujung kepala melalui uang pajak. Sang raja tidak perlu lagi memikirkan besok makan apa, karena dapur mewah istananya selalu mengepul dengan hidangan terbaik. Ia tidak perlu lagi merasakan pengapnya rumah petak beratap daun nipah, karena saat ini ia tidur dan berbaring di atas tilam sutra di dalam gedung megah yang dijaga ketat pengawalnya.

Lalu, alasan apa sehingga kamu wahai sang raja sanggup berbuat jahat kepada rakyat???  Jawabannya bisa jadi pengemis yang sudah menjadi raja itu sedang terpapar virus psikologis kekuasaan: Sifat rakus itu mendominasi jiwanya hingga melampaui batas kebutuhan biologisnya.

Kekuasaan itu bukan membentuk karakter, melainkan cermin yang memmantulan dirinya. Seseorang mendapatkan kekuasaan tanpa diimbangi kekuatan mental dan spiritual yang matang, ia akan mengalami sindrom inferiority complex, ketakutan akut akan kembali menjadi miskin dan tidak punya apa-apa. Kekuasaan dan harta melimpah yang ia nikmati hari ini tidak pernah cukup untuk memuaskan rasa dahaga di dalam jiwanya. Ia tidak lagi mengejar kecukupan hidup (karena itu sudah lebih dari cukup), melainkan mengejar dominasi, kontrol, dan keabadian takhta. Bahkan demi mengamankan itu semua, ia sanggup menindas dan berbuat jahat kepada rakyat yang dulu selalu memberi sedekah dan mengasihaninya.

Anggapan Absurd “Mandat adalah Hak Milik, Padahal Pinjaman” Buruh Outsourcing

Alasan kedua mengapa sang raja bertindak jahat adalah karena ia mulai menganggap takhta tersebut sebagai hak milik pribadinya, bukan lagi sebagai pinjaman dari rakyat. Di matanya, rakyat bukan lagi pemberi mandat, melainkan sekadar angka statistik atau “pion” yang bisa ia gerakkan sesuka hati demi melanggengkan kekuasaannya dan dinastinya padahal dia tak lebih dari sekadar buruh outsourcing.

Ia lupa bahwa gedung megah yang ia tinggali, kasur sutra yang ia tiduri, hingga makanan mewah yang ia santap setiap hari adalah tetesan keringat dan darah rakyat yang diperas lewat pajak. Menyakiti rakyat yang membiayai kemewahan hidupnya adalah bentuk pengkhianatan moral paling menjijikkan dalam sejarah peradaban manusia.

Kisah “Pengemis yang Menjadi Raja” ini adalah peringatan keras bagi kita semua sebagai pemilik sah kedaulatan negara ini. Jangan pernah lagi tertipu oleh wajah melas para pengemis suara yang datang menjelang musim pemilu.

Bagi sang penguasa yang hari ini sedang asyik bertilam sutra dan hobi berbuat jahat kepada rakyat: ingatlah, sejarah selalu punya cara yang kejam untuk menjatuhkan para raja yang amnesia. Ketika rakyat yang memberi takhta itu sudah habis kesabarannya, mereka tidak akan ragu untuk menarik kembali jubah kemegahanmu dan mengembalikanmu ke tempat asalmu: menjadi pengemis yang tak punya harga diri di mata sejarah. ( PRAJI )

Penulis adalah Ketua Komunitas Pewarta Rakyat Jelata Seluruh Indonesia  / KOPERASI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *